MEMBANGUN DAN MEMELIHARA RASA EMPATY
Selasa, 29 Desember 2009 - 19:32:26 WIB Diposting oleh : Administrator |
Kategori: Profil Muwakif
- Dibaca: 465 kali
Gambar:
Lainnya:
Profesionalisme dalam menjalankan tugas merupakan hal yang menjadi prioritas utama, terlebih profesi itu terkait dengan urusan keselamatan dan kesehatan manusia. Itulah tugas seorang dokter yang memang sangat dibutuhkan ketika orang mengalami gangguan kesehatan atau mengalami musibah kecelakaan.
Bagi
Octaav Yusbar, pekerjaan menjadi seorang dokter sudah merupakan hal yang rutin dan sekaligus merupakan panggilan jiwa. “Saya sangat menikmati pekerjaan menjadi seorang dokter, disamping bisa mengamalkan ilmu yang didapat, juga bisa membantu orang-orang yang mengalami kesulitan”. Demikian ungkap dr Octaav Yusbar yang menjadi salah seorang Muwakif Wakaf Center ini.
Dengan dibekali ilmu semasa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Octaav bisa menjalankan profesinya sebagai seorang dokter dengan baik. Disamping sebagai tenaga medis di beberapa Rumah Sakit, Octaav juga memiliki aktivitas kerja profesional yang lain yaitu sebagai karyawan pada sebuah perusahaan Asuransi Syariah, “jika diperhatikan apa yang saya kerjakan sebagai karyawan asuransi sudah tentu tidak jauh dari profesi saya sebagai seorang dokter, ya... ngurusin sekitar kesehatan juga” demikian Octaav menjelaskan.
“Sebagai seorang dokter dan sekaligus sebagai seorang Muslim” lanjut Octaav, “kita dituntut untuk selalu berupaya membersihkan hati dari segala kekotoran seperti hasad, rasa curiga yang terlalu berlebihan kepada sesama serta terus menanamkan empaty kepada siapa saja yang mengalami musibah”, dalam prakteknya lanjut Octaav, tidak jarang kita dihadapkan kepada permasalahan, satu sisi harus menolong orang yang kesulitan, sisi lain rumah sakit atau dokter dituntut untuk menerapkan profesionalisme sebagai lembaga bisnis yang berorientasi pada profit.
“Sehingga, tidak jarang kita lihat Rumah Sakit atau dokter yang menolak pasien yang datang dikarenakan dia tidak memiliki sejumlah uang sebagai garansi. “hal ini khususnya sering terjadi pada pasien rawat inap”tegas Octaav.
“Padahal jika kita cermati dan yakini” lanjut Octaav, rumah sakit atau seorang dokter tidak akan bangkrut atau jatuh miskin hanya karena menolong seorang atau beberapa orang pasien yang mengalami kesulitan keuangan sementara dia harus segera dirawat. Itulah sebenarnya bagian dari ujian kepada kita sehingga dari situ kita bisa mengukur sejauh mana rasa empaty kita kepada sesama”. Demikian Octaav berujar sambil mengingatkan tentang filosofi hidupnya selama ini yang di dapat dari ibu kandungnya, bahwa ketika kita memberi seseorang sejumlah uang misalnya Rp. 50.000 atau Rp. 100.000 sekali, itu tidak akan membuat kita miskin, tetapi bagi mereka yang kita bantu, betapa berharganya uang sebesar itu, dan Insya Allah keberkahan akan kita rasakan.
Ketika ditanya apa motivasi anda untuk menjadi Muwakif dan menyerahkan sejumlah dananya ke Wakaf Center, Octaav menguraikan bahwa dalam hidup ini dia ingin memberikan manfaat dan berbagi dengan sesama khususnya orang-orang Muslim yang mengalami kesulitan. “kenapa kita sebagai seorang Muslim tidak berusaha untuk membantu saudara-saudara kita yang juga muslim, sementara jika kita lihat orang-orang Kristen yang saya ketahui, begitu intens untuk membantu saudara-saudara Muslim kita, terlepas apa motivasi bantuan mereka itu.”
“Üntuk itulah saya amanahkan sejumlah dana wakaf beserta infak ini ke lembaga yang sudah memiliki program yang menurut saya bisa menjembatani antara saya dengan saudara saya yang dhuafa, dan saya percaya Wakaf Center mampu melakukan amanah tersebut”. Jelasnya.
Di akhir pembicaraan Octaav berharap semua orang muslim dan lembaga Islam baik yang memiliki misi sosial maupun yang memiliki misi bisnis, untuk terus memelihara dan meningkatkan rasa empaty kepada fakir miskin, jangan sampai ada orang disekitar kita mengalami kelaparan atau kesulitan sementara kita berlebih dan bersenang-senang. “Kalau itu yang terjadi saya takut jangan-jangan hati kita sudah mati walaupun sebenarnya jasad kita hidup. naudzubillahi mindzalik”.
Nama : dr. Octaav Yusbar
TTL : Surabaya, 1 Agustus 1970
Alamat : Jl. Tebet barat 3E No 12 Jaksel
Pekerjaan : Karyawan ATK dan dokter dibeberapa RS
Status : Menikah dg 1 istri dan 1 anak
Alumni : Fak. Kedokteran UKI thn 1996