Standar Minimal Kebutuhan Manusia
Jumat, 15 Januari 2010 - 20:41:00 WIB Diposting oleh : Administrator |
Kategori: Kolom Direktur
- Dibaca: 2009 kali
Gambar:
Lainnya:
Tiga pekan yang lalu, tepatnya tanggal 30 Maret 2008, ketika diadakan launching peletakan batu pertama pembangunan Bait Qur’ani di daerah Bojong Kulur kab Bogor, di mana pada acara tersebut sekaligus diadakan pelayanan kesehatan Cuma-Cuma untuk masyarakat sekitar yang kurang mampu, banyak dari warga yang mengusulkan secara perorangan kepada kami untuk lebih rutin lagi dalam melakukan pelayanan kesehatan Cuma-Cuma ini. Karena menurut mereka adanya pelayanan kesehatan Cuma-Cuma ini sangat meringankan kesulitan para dhuafa dalam mengobati penyakitnya ditengah mahalnya biaya berobat.
Fenomena keresahan masyarakat khususnya orang-orang dhuafa terhadap mahalnya biaya pengobatan, sering kami jumpai di manapun ketika kami mengadakan acara yang sama. Bahkan di pusat kota besar seperti Jakarta sekalipun yang segala sarana dan prasarana kesehatannya terlengkap, keresahan itu masih sering kami jumpai. Bagaimana pula dengan para dhuafa yang berada di daerah-daerah pelosok negeri ini yang bukan saja tidak mampu berobat tetapi juga sangat sulit untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai karena masih jarangnya sarana dan prasarana kesehatan.
“Orang miskin dilarang sakit”, kalimat itu sering kami dengar dalam percakapan ringan antara sesama aktivis lembaga social. Kalimat ini memang hanya sekedar anekdot untuk menyegarkan suasana obrolan, tapi barangkali ada benarnya juga jika kita lihat dari realita dalam kehidupan nyata. Coba kita perhatikan, betapa banyak berita yang sering kita dengar maupun kita baca dari berbagai media cetak tentang kesulitan kaum dhuafa ketika mereka ditimpa musibah yang namanya sakit. Tidak sedikit rumah sakit bahkan rumah sakit yang dijamin pembayarannya oleh pemerintah sekalipun, menolak pasien dari kalangan tidak mampu. Sampai-sampai menteri kesehatan belum lama ini memberikan statement akan memberi sanksi kepada rumah sakit yang tidak mau menerima pasien orang miskin.
Inilah realita yang sedang kita hadapi dan ada di sekitar kita. Jika kita mengacu data dari Biro Pusat Statistik bulan Pebruari 2007, jumlah orang miskin absolute dengan penghasilan perhari maks Rp.5000 atau maks perbulan Rp.150 rb sebanyak 17,5 % atau 38,5 juta jiwa, belum lagi jika ditambah dengan jumlah orang miskin moderat dengan penghasilan perhari maks Rp. 15 rb atau maks perbulan Rp. 450 rb yang menyentuh angka 47 % atau 105 juta, maka persoalan kesehatan orang miskin selain pendidikan dan ekonomi menjadi semakin kompleks dan harus segera dijawab dengan bukti nyata.
Kesehatan memang termasuk kebutuhan dasar manusia selain sandang, pangan, papan dan pendidikan, karena bagaimana mungkin pembangunan bisa berjalan dengan baik jika tingkat kesehatan masyarakatnya rendah, yang ada justru tingkat kematian semakin meningkat.
Oleh sebab itu target pemenuhan kebutuhan standar manusia inilah yang menjadi konsen dan cita-cita WATER dalam mengelola dana amanah ini. Mudah-mudahan secara bertahap WATER bisa mewujudkan apa yang diharapkan dari kalangan kaum dhuafa yaitu pelayanan kesehatan Cuma-Cuma dengan cita-cita besarnya adalah ingin mewujudkan Rumah Sakit Gratis yang diperuntukan bagi kaum dhuafa. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan segala yang kami cita-citakan. Amin