Ada Harapan Di Tengah Himpitan Kesulitan
Minggu, 12 Desember 2010 - 11:14:44 WIB Diposting oleh : Administrator |
Kategori: Kolom Direktur
- Dibaca: 998 kali
Gambar:
Lainnya:
Menggali Potensi Yang Sangat Besar
Ada sebuah bait syair lagu yang sudah beredar kira-kira era 70 atau 80 an yang dipopulerkan oleh group Koes Plus yang sampai sekarang pun tidak jarang masih sering kita dengar dinyanyikan orang, yaitu yang berbunyi "...orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...", jika pencipta lagu sampai mengibaratkan tanah kita seperti surga, berarti yang terbersit di benaknya adalah sebuah gambaran betapa negeri ini indah, subur, makmur, kaya, gemah ripah loh jinawi, apa saja ada di Indonesia ini dll. Kira-kira seperti itulah gambarannya.
Namun jika kita melihat fakta yang ada di lapangan, sepertinya syair lagu di atas jauh panggang dari api. Mengapa demikian, coba kita perhatikan data yang dilansir oleh BPS (Biro Pusat Statistik) tahun 2007 misalnya, jumlah orang miskin absolut/mutlak (yang memiliki penghasilan hanya Rp. 5000,-/hari) itu mencapai 38,5 juta jiwa atau 17,5 % dari jumlah penduduk Indonesia. Belum lagi (masih data BPS) yang termasuk miskin moderat ( yang memiliki penghasilan hanya Rp. 15.000,-/hari) itu mencapai 105 juta jiwa atau 47 % dari jumlah penduduk Indonesia, itu berarti jumlah penduduk yang termasuk kategori miskin (yang berpenghasilan Rp. 15.000,-/hari ke bawah) menurut kriteria BPS ada 143,5 Juta jiwa 64,5 % dari jumlah penduduk Indonesia. Sebuah angka yang fantastik untuk sebuah Negara yang subur dan melimpah kekayaan alamnya.
Namun demikian ketimpangan sosial di tengah-tengah kita sudah merupakan hal yang biasa terjadi, ditambah lagi keadilan belum merata dirasakan oleh warga masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum dll, masih merupakan barang yang langka dan sulit ditemukan dan dirasakan bagi kebanyakan orang khususnya kaum lemah. Sementara para koruptor semakin berani dan terang-terangan "berenang" di atas tumpukan harta hasil korupsi. Inilah potret wajah Negara Indonesia yang dikatakan bak surga dalam syair lagu di atas.
Sebagaimana diketahui, Indonesia adalah Negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dan yang sangat memprihatinkan lagi adalah bahwa, mayoritas penduduk muslim tersebut justru termasuk kategori miskin bahkan banyak juga yang berada di bawah garis kemiskinan. Artinya apa, artinya saudara-saudara muslim kita berada dalam kondisi memerlukan bantuan karena kemiskinan yang mereka derita.
Bukankah Rasulullah Muhammad SAW jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada kita bahwa "barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka". Mereka kesulitan, mereka membutuhkan bantuan karena mereka miskin, lalu apa kita harus berpangku tangan dan tidak peduli dengan kondisi mereka semata-mata karena kita sudah mapan ?, ooh... rasanya itu bukan karakter dan sifat seorang muslim yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, karena seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa orang muslim satu dengan muslim lainnya itu ibarat satu tubuh, jika ada bagian tubuh satu yang sakit, maka bagian tubuh lainnya turut merasakannya.
Tugas membantu orang miskin bukan semata-mata sepenuhnya tugas pemerintah, tetapi ini adalah tugas dan tanggung jawab semua elemen bangsa apalagi dia adalah seorang Muslim. Diamnya kita dan tidak peduli atas apa yang terjadi pada saudara-saudara kita, hakekatnya adalah kerugian bagi kita sendiri, dan di akhirat kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT atas ketidak pedulian kita pada saudara kita. Karena jika kita tidak segera menolong mereka dan berusaha mengeluarkan mereka dari kesulitan hidup, ketahuilah bahwa Allah SWT pasti akan menurunkan pertolongan kepada mereka melalui tangan orang lain. Dan harus disadari bahwa Allah SWT pasti tidak akan membiarkan seorang Muslim menderita selamanya dan juga senang selamanya, semua pasti dipergilirkan, karena itu merupakan bagian ujian dari Allah SWT baik bagi yang miskin maupun bagi yang kaya, tinggal sejauh mana kita memanfaatkan posisi kita untuk sebanyak-banyaknya meraih pahala dan ridho Allah SWT.
Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, apakah kita bisa dan mampu untuk merubah kondisi umat ini untuk keluar dari segala permasalahan hidup ? Jawabannya jika kita mau dan fokus serta komitmen bersama, insya Allah bisa. Lalu bagaimana caranya ???
Menggali potensi dana umat adalah salah satu cara yang patut dan layak untuk dicoba, karena jika potensi dana umat itu bisa digali secara optimal, maka insya Allah kita bisa menyelesaikan banyak persoalan.
Lalu potensi dana umat apa yang sampai saat ini belum tergali secara optimal ? maka jawabannya adalah potensi dana umat dalam bentuk Wakaf Uang Tunai.
Penggalian potensi wakaf uang tunai inilah yang sudah dilakukan jauh-jauh hari oleh beberapa Negara lain seperti misalnya :
Di Turki, pemerintah berhasil mengumpulkan dana wakaf uang yang cukup besar dan dari dana wakaf tersebut bisa membantu defisit anggaran APBN terutama membantu dalam pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, sarana perkotaan dan fasilitas umum lainnya.
Di Mesir, sudah sejak ribuan tahun lalu wakaf dikelola secara profesional dan salah satunya yaitu dibangunnya Universitas tertua di dunia yaitu Al-Azhar Mesir dimana seluruh biaya operasional dari mulai bea siswa Mahasiswa, staf pengajar, pimpinan dan pengembangan universitas berasal dari hasil investasi dana wakaf.
Di Pakistan, lembaga wakaf yang di pimpin oleh Maulana Abdussatar Edhi telah membangun sedikitnya tiga ribu klinik wakaf dan seluruh dana operasional seperti perawatan, obat, gaji dokter didapat dari dana wakaf produktif atau hasil investasi wakaf uang tunai.
Di singapura, dengan warga muslimnya +- 453.000 org, Majelis Ulama singapura berhasil mengumpulkan dana wakaf uang tunai lalu membangun apartemen 12 lantai seharga 62,62 juta dolar singapura. Disewakan dan hasilnya untuk kemaslahatan umat dan penanganan kemiskinan.
Di Inggris, Islamic Relief (sebuah organisasi pengelola dana wakaf tunai yang berpusat di Inggris). Islamic Relief mampu mengumpulkan wakaf tunai setiap tahun tidak kurang dari 30 juta poundsterling, atau hampir Rp 600 miliar, dengan menerbitkan sertifikat wakaf tunai senilai 890 poundsterling per lembar. Dana wakaf tunai tersebut kemudian dikelola secara amanah dan profesional, dan disalurkan kepada lebih dari 5 juta orang yang berada di 25 negara. Bahkan di Bosnia, wakaf tunai yang disalurkan Islamic Relief mampu menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 7.000 orang melalui program Income Generation Waqf. Termasuk membangun sarana pendidikan, kesehatan dan lapangan di Aceh setelah musibah tsunami.
Itulah beberapa contoh penghimpunan dana wakaf uang tunai di beberapa Negara di dunia. Lalu bagaimana dengan di Negara Indonesia yang jumlah muslimnya merupakan jumlah terbesar di dunia?
Sampai saat ini baik pemerintah maupun swasta belum benar-benar memfokuskan diri untuk menggali potensi dana umat dalam bentuk wakaf uang tunai. Memang ada beberapa lembaga termasuk yang didirikan oleh pemerintah yaitu Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan ada beberapa dari swasta termasuk Wakaf Center yang usianya masih sangat muda yaitu baru 3 tahun.
Namun demikian, walaupun ada beberapa lembaga wakaf tunai yang sudah berdiri, potensi tersebut masih belum tergali secara optimal, bahkan boleh dikatakan masih bersifat "receh" yang bisa terhimpun. Walaupun begitu, "receh" pun dalam kurun waktu tertentu bisa menjadi kekuatan yang dahsyat jika umat Islam bersatu dan memiliki visi dan misi yang sama.
Jika kita ilustrasikan, seandainya ada 1 juta umat islam berwakaf secara rutin sebesar Rp. 25.000 saja setiap bulan selama minimal 5 tahun, maka setiap tahunnya akan terkumpul dana abadi dalam bentuk wakaf sebesar Rp. 300 Milyar, jika dikalikan selama 5 tahun, maka akan terkumpul dana sebesar Rp 1,5 Trilyun.
Dana umat dalam bentuk wakaf uang tunai sebesar Rp 1,5 Trilyun kemudian diinvestasikan dengan aman dengan margin bagi hasil rata-rata 1 % saja setiap bulan, maka akan muncul angka bagi hasil sebesar Rp. 15 Milyar setiap bulannya, sedang nilai pokok wakaf yang Rp. 1,5 Trilyun tidak habis.
Dengan dana bagi hasil Rp. 15 Milyar setiap bulan, insya Allah akan sangat banyak program pemberdayaan umat sekaligus dapat menyelesaikan persoalan umat secara bertahap. Itu baru 1 juta umat Islam di Indonesia yang berwakaf, bagaimana jika 5 juta, 10 juta bahkan 20 juta umat Islam yang berwakaf Rp. 25.000/bulan, rasanya semua warga Negara akan sejahtera karena tercukupi kebutuhan pokoknya bahkan bisa lebih.
Insya Allah jika kita mau dan komitmen ingin sama-sama membangun umat dan negeri ini, rasanya tidak perlu lagi kita "mengemis-ngemis" minta bantuan Negara-negara lain yang justru bukan menyelesaikan persoalan tetapi menambah hutang yang berlipat-lipat karena bunga yang sangat "mencekik" perekonomian bangsa ini, yang akibatnya rakyat akan semakin sengsara menanggung hutang yang tidak kunjung selesai. Namun dengan dana abadi umat dalam bentuk wakaf uang tunai, semuanya menjadi halal, bersih dan menjadi solusi tepat untuk menyelesaikan masalah umat dan bangsa ini. Ayo.... Siapa yang mau gabung ????....